26 June 2018

Book Review | Un Treno Per Non So (Kereta Tanpa Tujuan) by Ifa Inziati


Judul: Un Treno Per Non Son (Kereta Tanpa Tujuan)
Penulis: Ifa Inziati
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-8083-4
Tebal: 312 halaman
Tahun terbit: 2018

“Jadi, Alita, ketika hujan emas turun, berdoalah. Karena perasaan bahagia kita sedang menyatu dengan alam.”
Sebelum kepergian ibunya, Alita mendapat kenang-kenangan istimewa, yaitu dongeng berjudul Hujan Emas. Alita memegang erat dongeng karangan ibunya itu selama sembilan tahun, bahkan sampai ayahnya menikah lagi. Dongeng itu juga mengikuti Alita ke Turin, Italia, saat dia menjalani program pertukaran pelajar.
Di Turin, Alita tinggal bersama suami-istri pemilik penginapan dengan masakan lezat tiap hari dan berteman dengan murid sekelas yang heboh. Ketika Alita berpikir dongeng hujan emas masih tersimpan baik di hatinya, Pier datang membawa ide hujan emas yang persis sama, yang mengusik jiwa gadis itu.
Alita bertanya-tanya mengapa Pier bisa mengetahui dongeng itu. Namun, Pier malah memberinya jawaban lain. Pier membuat Alita menemukan sisi lain Turin. Dan tak disangka, seiring menjelajahi sudut kota itu, Alita juga menemukan sisi lain Pier, serta konsekuensi yang harus dia tanggung karena telah menaiki kereta tanpa tujuan.

"Selamat datang di ujung dunia." (hal 21).

Novel ini dibuka dengan Alita yang tiba di Turin, Italia, setelah menaiki kereta dari Roma. Kenapa ujung dunia? Karena Alita nggak mengenal orang-orang sana, nggak ada orang ngomong pakai bahasa Indonesia, pokoknya berjarak ribuan kilometer dari rumahnya di Bandung. Selain untuk mengikuti program pertukaran pelajar, Alita 'nyasar' di Turin juga untuk menyibukkan diri agar nggak terus menerus mempertanyakan kepergian ibunya sembilan tahun lalu. Terlebih dia juga punya jarak dengan Mami, ibu tirinya. Berada di luar rumah baginya adalah pilihan terbaik.
 

Seorang pemuda Italia bernama Pier mendadak menarik perhatian Alita setelah beberapa hari tinggal di sana. Selain tampan, Pier juga mengetahui tentang hujan emas. Suatu hari, Pier memberikan tur tanpa peta kepada Alita. Alasannya karena sudah telanjur di Centro. Dan dia pernah mendapati Alita tersesat di Centro saat awal tiba di sini. Sekilas, perjalanan Alita dan Pier terlihat normal. Namun Alita menangkap kesan mendalam dari perjalanan mereka. Sesampainya di penginapan, Alita menangis untuk pertama kali sejak tiba di Turin.

Intensitas pertemuan Alita dan Pier jadi makin sering, terlebih Pier sudah dianggap seperti anak sendiri oleh host family Alita sejak lama. Perlahan, Alita juga semakin tahu segala hal tentang Pier meskipun pemuda itu nggak pernah cerita. Ketika tahu Pier akan menulis ulang dongeng hujan emas, Alita antusias dan mendukungnya. Sayangnya, Alita harus menelan kenyataan pahit. Ya, sama seperti remaja pada umumnya, Alita juga merasakan patah hati. Alita ingin kembali ke Bandung detik itu juga.
 

"Kak Lita, Kakak harus tetap di sana sampai selesai. Kalau Kakak pulang sekarang, itu tandanya Kakak nunjukkin sama yang bikin Kakak sakit hati, kalau Kakak kalah." (hal 262).

Kenapa Alita bersikeras ingin meninggalkan Turin? Apakah Alita jadi kembali ke Bandung sebelum program pertukuran pelajarnya selesai?
Sebenarnya dari mana Pier tahu soal hujan emas? 


Membaca novel ini, aku langsung jatuh hati bahkan sejak membuka chapter pertama. Unik aja ketika membayangkan remaja tujuh belas tahun sedang melakukan perjalanan jauh tanpa didampingi orangtua. Yang aku suka, penulis menyelipkan seni di dalamnya. Kegemaran Alita dalam melukis, keputusan Pier untuk mengarang dan menulis ulang dongeng hujan emas, membuat novel ini menarik sekali untuk dinikmati.

Penulis membuktikan bahwa teenlit nggak harus memuat tema cinta monyet anak remaja, tema seperti ini ternyata nggak kalah asik. Bahkan aku yang udah lepas dari status remaja bisa ngambil makna mendalam dari novel ini. Usia belasan adalah usia peralihan yang sangat menentukan masa depan. Usia belasan adalah masa untuk menemukan jati diri, berpetualang untuk menemukan diri sendiri dan meninggalkan ego kanak-kanak. Itulah pesan dalam Un Treno Per Non So.

Pembaca yang masih remaja akan termotivasi untuk bisa jadi real teen. Kayak Alita ini, dengan usaha kerasnya dia punya kesempatan menjalani program pertukaran pelajar ke luar negeri. Dan ternyata, yang dimaksud kereta tanpa tujuan dalam novel ini nggak seperti yang aku pikirkan sebelumnya. Sungguh di luar dugaan dan penuh kejutan. Tentu aja, berhubungan bahkan kental sekali dengan permasalahan anak usia belasan.


Karena teenlit ini berbeda dengan beberapa teenlit yang udah aku baca sebelumnya, aku nggak bisa berkomentar apa-apa selain bilang kalau novel ini keren banget. Secara keseluruhan, aku menikmatinya. Meskipun sesekali tersiksa karena penasaran akut sama rasa gelato asli sana, juga tempat-tempat keren yang dideskripsikan secara sempurna.  Aku merekomendasikan novel ini buat kalian semua, khususnya remaja zaman now.