28 June 2018

Book Review | Salju Pertama di Hokkaido by Angelique Puspadewi

Judul: Salju Pertama di Hokkaido
Penulis: Angelique Puspadewi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-7668-4
Tebal: 256 halaman
Tahun terbit: 2017
Telah ada chemistry antara Yasmin, Rain, dan Kitaro sejak duduk di sekolah dasar, dan mereka masih terlalu belia untuk menyadarinya.

Lima belas tahun kemudian, ketiganya bertemu. Yasmin yang baru putus dari kekasihnya jatuh cinta kepada Rain. Pria yang kerap gonta-ganti perempuan itu seakan kena batunya setelah bertemu Yasmin. Sementara Kitaro juga jatuh cinta pada gadis yang dicintainya sahabatnya itu.


Pada hari ketika Rain hendak melamar Yasmin, gadis itu menjadi korban gempa bersama Kitaro, yang saat itu menyewa jasa Yasmin sebagai pemandu. Demi menebus rasa bersalahnya, Kitaro membawa Yasmin berobat ke Hokkaido.

Yasmin yang kehilangan ingatan karena gempa menerima lamaran Kitaro. Ia merasa pria itu telah menjadi malaikat penolong baginya. Namun, ketika Rain mendatanginya ke Hokkaido, Yasmin terjebak dalam pilihan pelik, yang mungkin akan menyakiti mereka bertiga.


Yasmin baru saja putus lantaran nggak mendapat restu dari orangtua mantan kekasihnya. Saat mantannya ngajak kawin lari, Yasmin menolak. Tanpa diduga, Rain datang mengaku sebagai kekasih baru Yasmin untuk menyelamatkan gadis itu dari ajakan si mantan. 

Rain dan Yasmin sudah pernah bertemu sebelumnya di tempat kerja Yasmin. Saat itu, Rain langsung terpesona akan senyum dan paras Yasmin. Yasmin tahu kalau Rain sering memperhatikanya diam-diam. Anehnya, dia justru merasa senang. Ketika Rain dan Yasmin terjebak perasaan merah jambu khas anak remaja, mereka baru sadar kalau ternyata mereka sudah terhubung sejak lima belas tahun silam.

Sama seperti Rain, Kitaro juga pertama kali bertemu Yasmin di bengkel tempat kerja gadis itu. Sama seperti Rain juga, Kitaro langsung terpesona kemudian melancarkan aksi pedekate. Terlebih, dia menemukan kemiripan garis wajah antara Yasmin dengan Meyriska, gadis pujaannya yang sudah meninggal.

Yasmin nggak tahu kalau Rain dan Kitaro bersahabat. Dua pemuda itu juga nggak tahu kalau mereka sama-sama menyukai Yasmin. Rencananya, nanti ketika Yasmin memandu Kitaro berwisata ke Jogja, Yasmin ingin mengenalkan Kitaro kepada Rain. Kebetulan Rain sedang bertugas liputan di Jogja. 

Gempa di Jogja mengubur rencana Yasmin. Dia dan Kitaro sedang makan sewaktu gempa terjadi. Yasmin nggak sadarkan diri dan ketika bangun, dia sudah berada di rumah sakit dalam kondisi hilang ingatan. Kitaro dengan sigap membawa Yasmin ke Hokkaido untuk dirawat di sana karena yang dia tahu, Yasmin seorang yatim piatu.

Yasmin bimbang sebelum menerima lamaran Kitaro. Di satu sisi, dia banyak berhutang pada Kitaro karena berkat Kitaro, Yasmin mendapat perawatan terbaik akan kondisi amenesianya. Namun di lain sisi, Yasmin nggak punya perasaan apa-apa pada Kitaro. "Aku tahu kamu belum mencintaiku. Tapi aku yakin, suatu saat nanti kamu akan melihatku sebagai pria yang tidak ingin kamu lepaskan." (hal 180).

Bagaimana akhir kisah Yasmin, Rain, dan Kitaro? Akankah kebahagiaan dirasakan ketiganya? 

Awalnya aku kira novel ini hanya memuat kisah tentang percintaan, tapi ternyata juga memuat tentang persahabatan dan pengorbanan. Ketika membaca sampai di bagian epilog, aku baru sadar kalau pesan dalam novel ini lebih condong ke makna persahabatan dua cowok berbeda negara. Cara Rain nolongin Kitaro dari tindak bullying, cara Kitaro bantuin Rain untuk menyelesaikan tugas kuliah, cara mereka saling berkorban dalam urusan cinta, serius, ini mengharukan banget.   

Well, ini kali kedua aku baca lini Amore penerbit Gramedia Pustaka Utama. Pesan tersiratnya tidak jauh berbeda dengan novel Amore yang aku baca sebelumnya. Setelah membaca novel ini, pembaca akan merenungi bagaimana hubungannya dengan sahabat selama ini. Apakah sudah 'seromantis' Rain dan Kitaro? Untuk alurnya sendiri sangat asik, membuat aku terhanyut karena terlalu menikmatinya. Penulis menarik rasa penasaran pembaca dengan pertanyaan besar, kapada siapakah Yasmin menjatuhkan pilihannya?

Masuk pada karakter, aku bisa merasakan kekuatan karakter masing-masing tokoh. Yasmin yang diceritakan sebagai anak yatim piatu berusaha keras mencapai kemandirian dengan bekerja ini-itu. Aku juga bisa merasakan perbedaan karakter Rain dan Kitaro. Sifat mereka berbeda bukan hanya karena berbeda bangsa melainkan juga karena faktor masa lalu. Rain yang suka gonta ganti perempuan dan Kitaro yang masih menyimpan kesedihan mendalam karena kekasihnya meninggal, karakter-karakter tersebut memperkuat ketertarikan pembaca.

Aku sempat speechless, ternyata cerita dengan tema persahabatan yang berdampingan tema percintaan bisa dikemas semenarik ini. Terlebih karakter yang bersahabat itu bukan sesama warga Indonesia. Bisakah kalian membayangkan bersahabat dengan orang luar negeri selama bertahun-tahun?

Ada lagi yang membuat novel ini asik banget untuk dinikmati, yaitu plot twist-nya. Settingnya juga kece. Awalnya di Jakarta, terus Jogja, Hokkaido, balik Jakarta lagi. Dan penulis menutup kisah Yasmin-Rain-Kitaro dengan sangat baik. Aku puas sama endingnya. Secara keseluruhan, aku merekomendasikan novel ini untuk kalian yang suka menikmati novel bersetting luar negeri namun tidak meninggalkan setting lokal alias fifty fifty.