26 June 2018

Book Review | Lunar Eclipse by Nindya Chitra

Judul: Lunar Eclipse
Penulis: Nindya Chitra
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
ISBN: 978-602-04-5490-0
Tahun terbit: 2018
Tebal: 404 halaman
Serena Aldyathena tak pernah menyangka mimpi buruk yang kerap hadir dalam tidurnya merupakan pertanda terbukanya gerbang kegelapan. Sebuah kecelakaan menghentikan mimpi-mimpinya, lantas menukarnya dengan kemampuan berinteraksi dengan mereka yang berdiri di ambang hidup dan mati.


Kenzie Reynand Praditama menyandang gelar indigo di belakang predikat most wanted di SMA Prisma Jaya. Dia memanfaatkan kemampuan tak wajarnya untuk mendapat perhatian semua orang dan menjaili hantu-hantu penghuni sekolah.

Sebuah tragedi melibatkan Serena dan Ken dalam pencarian kebenaran atas kematian sesosok hantu misterius. Satu per satu tabir tersingkap. Pencarian mereka bermuara pada satu titik di mana jawaban atas mimpi buruk yang pernah menghantui Serena menunjukkan bahwa mimpi tersebut bukan bunga tidur belaka.

Dia memperkenalkan diri sebagai sesuatu yang lebih pekat dari kegelapan, lebih mengerikan dari kematian, dan lebih menyeramkan dari hantu mana pun tapi tak dapat disingkirkan tanpa meninggalkan bekas. Sebab, manusia dan emosinya bisa menjadi kombinasi paling merusak yang pernah ada.

"Ini rahasiaku. Jangan katakan pada siapa pun." (hal 3).

Serena bisa melihat wujud yang nggak bisa dilihat orang kebanyakan sejak Tesa, sahabatnya, meninggal. Mimpi-mimpi mengerikan yang siang malam seakan nggak pernah berakhir, berganti dengan pemandangan hantu-hantu mengerikan di manapun Serena berada. 

Dari seluruh siswa SMA Prisma Jaya, hanya Serena dan Ken yang bergelar indigo. Meski begitu, keduanya nggak akrab. Bahkan Serena terang-terangan menunjukkan kekesalan pada Ken. Karen, sahabat terdekat Serena, sempat membahas soal kekesalan Serena pada Ken. Tapi Serena-nya ngeles, padahal Karen udah penasaran banget. 

Kabar menghilangnya Kinan—adik perempuan Karen—membuat Serena mengulurkan bantuan untuk Karen. Seenggaknya dengan dia berada di sisi Karen bisa sedikit menghibur sahabatnya itu. Serena mendengar berita heboh tentang Ken minggu berikutnya di sekolah. Yang dia dengar, Ken sedang mencari cewek berseragam namun bukan seragam SMA Prisma Jaya. Ken bertemu cewek itu di deket TU tempo hari dan bersikeras ingin menemuinya lagi.

Salah satu teman Serena sempat mengambil foto bergambar cewek yang dicari Ken—Ken mengambil notes yang nggak sengaja dijatuhkan cewek itu tempo hari dan ada foto dalam notes itu. Ketika Serena melihat foto itu, wajahnya memucat
. Serena buru-buru menemui Ken untuk mendengar langsung soal pertemuan Ken dengan cewek itu. Namun Ken nggak ada di kelasnya. Sebagai gantinya, Serena justru berhadapan dengan wujud yang sulit dipercaya oleh penglihatannya.

Sementara itu, Karen masih terus berusaha mencari Kinan. Dengan bantuan Serena, Ken, dan Melanie, Karen menemui klub astral project yang diikuti Kinan. Dari sini, bukannya mendapat petunjuk tentang keberadaan Kinan, mereka justru dipertemukan dengan situasi mencekam.

Apa mereka berhasil menemukan Kinan? Lalu siapa sosok yang dilihat Serena hingga wajahnya memucat, padahal dia sudah terbiasa bertemu makhluk-makhluk tak kasat mata?
 

Membaca novel ini, aku seneng banget karena akhirnya nemu bacaan sesuai kriteriaku, yaitu menegangkan tapi sesekali bikin senyum-senyum. Horor lokal yang dibungkus kisah persahabatan dan percintaan anak SMA, sangat menarik dan ringan untuk dibaca siapa aja. Terlebih buat pembaca yang suka cerita-cerita horor. Gaya penulis sangat luwes, membuat pembaca mudah masuk dalam alur cerita. Pun teknik show yang dilakukan penulis udah level tinggi, jadi nggak membosankan, sebaliknya, otakku fresh banget ketika baca Lunar Eclipse.

Bagian analisis Serena tentang benda misterius milik Kinan ini seru banget, langsung masuk ke list chapter favoritku. Bagai Hercule Poirot dan Sherlock Holmes, pembaca diajak mencari petunjuk untuk membantu Serena keluar dari kubikel mencekam dalam novel ini.
Oh iya, karena menggunakan sudut pandang orang pertama, aku bisa memahami gimana galaunya Serena dalam menentukan tindakan.
 

Banyak pesan moral yang bisa aku ambil setelah nuntasin baca Lunar Eclipse. Salah satunya, kalian tentu pernah denger kasus orang yang melakukan segala cara demi mendapatkan materi/kebahagiaan dengan mengorbankan keluarga atau orang terdekat? Yes, pasti akhirnya nggak bahagia kan? Itulah pesan tersirat dalam novel ini.

Meskipun akhir babnya sedikit menggantung, aku suka twist ending-nya. Pengalaman baca horor-thriller lokal sebelumnya, aku nyesek karena karakter favoritku meninggal. Aku udah was-was, apakah di novel ini juga gitu? Ternyata nggak. Tapi bukan novel horor namanya kalau kalau endingnya nggak ngeri dan nyesek. 


Yang membuat novel ini seru adalah adanya klub astral project. Klub ini beroperasi secara online, sesekali kopdar juga. Sungguh, horor yang kekinian, belum pernah aku menemukan hal semacam ini di novel horor yang aku baca sebelumnya. Buat yang suka novel horor, of course aku merekomendasikan Lunar Eclipse. Kombinasi horor, thiller, dan misterinya akan membuat kalian jantungan dan penasaran akut. Plot ceritanya asik dan unpredictable

And the last, selamat berkenalan dengan Serena, Ken, dan Karen ya.