05 March 2018

Book Review | Romansick by Emilya Kusnaidi


Judul: Romasick
Penulis: Emilya Kusnaidi
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 304 halaman
ISBN: 978-602-03-7653-0
Cetakan kedua, Oktober 2017
Her life was almost perfect. Pekerjaan sebagai editor di majalah fashion ternama,rekan kerja yang baik hati meskipun doyan gossip, serta dua sahabat laki-laki yang selalu ada ketika dibutuhkan. So, what a girl could ask for more? Well, please underline the “almost” part.

Audrey “Dre” Kahono jatuh cinta setengah mati pada Eren, sahabatnya – tapi nggak pernah punya keberanian mengungkapkan hal itu. Sebuah pengakuan mendadak dari Eren membuatnya terseret dalam insiden penuh kesialan yang berujung pada serentetan drama baru: pertemuan tanpa sengaja dengan Austin yang moody setengah mati,
kejadian di pelataran parker, dan belum lagi soal liburan ke Bintan yang mendadak tapi berakhir mengejutkan!

Austin yang persisten mendekati Dre membuat Dre kesal tapi lama-lama suka. Nah, masalahnya, ketika Dre mulai dekat dengan laki-laki itu, Eren malah kelihatan uring-uringan. Belum lagi drama antara Dre dan Eren berakhir. Austin malah menambah drama baru dalam hidupnya…

“Andaikan ada tombol switch off untuk semua perasaan gue ke Eren, gue pasti udah pencet tuh tombol dari kapan tahu.” (hal 125)

Bagaimana rasanya menyukai teman sendiri tapi nggak berani mengungkapkan? Dre terjebak dalam lingkaran perasaannya sendiri selama sepuluh tahun. Terlebih Eren—laki-laki yang disukai Dre—punya sifat insensitif sehingga sampai kapan pun dia nggak akan sadar sama perasaan yang sudah lama dipendam Dre.

Dre merasa patah hati sedalam-dalamnya saat Eren berencana pergi ke New York untuk menemui Ayuna, mantan kekasih Eren. Lambat laun Dre berpikir bahwa dia nggak mau mati dengan perasaan menyesal yang ditanggung seumur hidup. Itu sebabnya dia berniat mengungkapkan perasaannya kepada Eren. Namun bukannya ketemu titik jelasnya, Dre malah terjebak friendzone tingkat kronis. Dia tidak jadi mengungkapkan perasaan karena mengetahui kenyataan bahwa Eren masih menaruh hati untuk Ayuna, bahkan berencana melamar gadis pujaannya itu.

Tanpa diduga, pertemuannya dengan Austin—yang diawali insiden memalukan—membuat Dre sejenak melupakan patah hatinya. Bahkan perempuan yang berprofesi sebagai editor majalah fashion itu merasa seperti ada sesuatu menggelitik perutnya ketika bersama Austin. Di satu sisi, Dre senang dekat dengan Austin, hitung-hitung sebagai usahanya untuk move on dari Eren. Namun di sisi lain, Dre tidak tahan dengan tingkah menyebalkan Austin.

Sayangnya, usaha move on Dre tidak semulus jalan tol. Eren mendadak berubah menjadi posesif, spontan membuat Dre Gemas. Kenapa baru sekarang Eren uring-uringan melihat Dre dekat dengan laki-laki lain? Selang beberapa waktu, Dre pikir dia bisa selamanya nyaman saat menjalin hubungan dengan Austin. Namun dia harus menelan kenyataan yang rasanya jauh lebih pahit dari kopi terpahit di dunia.
“Gila, so much drama in my life. So much for happiness. Kenapa sih untuk mencapai kebahagiaan segitu susahnya?” (hal 272)

Sejak awal membaca, saya menikmati gaya bahasa penulis. Rasanya gampang sekali masuk ke dalam alur cerita ini. Apalagi penulis menggambarkan penokohan yang kuat. Karakter Dre sangat menarik karena punya sifat yang bisa mewakili wanita karir di kota besar. Saya jadi paham ternyata di balik glamornya wanita karir ternyata menyimpan masalah pelik. Karakter Eren juga tidak kalah menarik. Dia membuktikan bahwa ternyata workaholic juga bisa mengatur waktu, sehingga sesekali bisa berkumpul dengan sahabat dan keluarga. Dan karakter Austin masuk dalam daftar karakter favorit saya karena kedewasaannya saat menyelesaikan masalah dengan Dre.

“Gue berencana omongin ini setelah kepala lo dingin. Karena apa pun yang gue omongin kemarin, lo nggak bakalan percaya. Apa yang gue omongin cuma memperburuk situasi.” (hal 240)

Dengan memakai sudut pandang orang ketiga, penulis menggambarkan setting dan suasana yang kental. Bahkan banyak dialog berbahasa Inggris sehingga menambah kekentalan kehidupan wanita karir di kota besar. Tempo alurnya pas, nggak terlalu cepat juga nggak terlalu lambat, sampai-sampai saya nggak sadar sudah menghabiskan banyak halaman. Satu hal yang saya suka dari karya Emilya Kusnaidi ini, plot twist. Dari beberapa novel romance yang sudah saya baca, belokan plotnya nggak setajam Romansick sehingga agak membosankan.

Keunggulan utama novel ini terletak pada cover look. Nggak rame, hanya gambar high heels dalam bingkai foto, namun berhasil menggambarkan kehidupan yang sedang dijalani Dre. Dari gambar utama tersebut, pembaca akan membayangkan konflik-konflik pelik yang dihadapi tokoh utama wanita di tengah kehidupan metropolitan. Hanya saja warna backgroud-nya kurang cerah jadi terkesan suram dan kurang cocok untuk novel genre romance.

Walau berprofesi sebagai dokter, penulis berhasil menceritakan dunia majalah fashion seakan-akan dia berprofesi di bidang tersebut. Banyak pengetahuan tentang bidang majalah fashion sehingga alur ceritanya nggak monoton tentang cinta-cintaan. Sebagai orang yang jarang memikirkan fashion, tentu saja hal itu menguntungkan buat saya. Sambil menyelam minum air, haha.

Overall, novel ini sangat menghibur karena temanya ringan. Cocok sekali untuk pembaca yang ingin melepas penat dengan membaca fiksi. Apalagi setting tempatnya sering dijumpai secara langsung maupun nggak langsung—dari banyak tontonan televisi. Meski topik yang diambil klise, namun penulis mengemasnya dengan gaya asik. Ditambah teknik show di seluruh bagian, membuat pembaca mudah menyimpulkan sendiri bagaimana tokoh-tokohnya menyelesaikan masalah.