25 February 2018

Book Review | First Fall by Irin Sintriana

Judul: First Fall

Penulis: Irin Sintriana

Penerbit: Grasindo
Tebal: 172 halaman
ISBN: 978-602-452-112-7
Terbit: Cetakan pertama, Juli 2017
"Ini pasti kutukan atau jampi-jampi! Ara rasa ia perlu mencari dukun untuk melepas semua kesialan ini. Bagaimana mungkin ia 'seberuntung' itu, sampai harus kembali sekelas dengan Aji, si cowok usil yang menciptakan neraka bagi Ara karena kejahilannya.


Yang terburuk dari semua itu, Ara malah jatuh hati pada Bayu, kakak kandung musuh bebuyutannya. Duh...!



Bagaimana nasib hubungan Ara dan Bayu di bawah bayang-bayang Aji? Dan apa sesungguhnya alasan Aji hingga ia begitu membenci Ara?



Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Ara dan Aji musuh bebuyutan. Semua teman mereka hafal betul apa yang terjadi pada kedua remaja itu di dalam kelas. Seperti pagi itu, tidak ada tanda-tanda Aji akan mengembalikan buku latihan Bahasa Indonesia milik Ara. Spontan membuat cewek berlesung pipi itu semakin kesal, terlebih dia belum mengerjakan tugas Bahasa Indonesianya. 


Kekesalan Ara rupanya tidak berhenti sampai di situ, karena dia mendapat kabar perjodohannya dari sang mama sepulang sekolah. Ara yang semula menolak keras akan rencana perjodohan mamanya spontan langsung setuju begitu melihat prince charming—yang bernama Bayu—itu datang bersama keluarganya. 

Di mata Ara, Bayu adalah cowok sempurna yang selama ini dimimpikannya. Namun level kesempurnaan itu seketika turun saat Ara mengetahui sebuah kenyataan pahit. Aji dan Bayu ternyata bersaudara. Kemudian makan malam dua keluarga tersebut menjadi tak seindah dalam bayangan Ara.  

Sejak acara makan malam itu, mau tidak mau Aji dan Ara sedikit mengurangi 'perang dingin' di antara keduanya. Otomatis menimbulkan keheranan di benak teman-teman sekelas mereka karena Aji-Ara akhirnya menunjukkan hubungan classmate yang wajar. Sebenarnya apa penyebab Aji dan Ara tidak pernah akur? Dan bagaimana kelanjutan perjodohan Ara dan Bayu?

Dilihat dari segi cover, ilustrasinya menarik banget. Jenis font judul juga sangat berseni sehingga terlihat eye catching. Hanya saja jenis font untuk nama penulis—yang memakai jenis font berseni juga—agak susah ditangkap mata sehingga menimbulkan kesulitan ketika membaca. Di lain sisi, saya suka ilustrasi gambar yang ada di tiap awal bab karena membuat penasaran dengan isi babnya.

Setelah membaca blurb, saya langsung nebak kalau di awal bab langsung menceritakan kejahilan Aji terhadap Ara. Dan ternyata benar. Namun inilah yang saya suka, konflik sebagai pembuka cerita. Saya semakin tertarik membaca saat menemukan plot twist di awal bab novel ini. Penulis berhasil mengambil rasa ketertarikan pembaca saat Ara mendapati Aji mengerjakan karangan di buku latihan Bahasa Indonesia miliknya. Padahal beberapa menit sebelumnya Ara harus menahan kesabaran karena bukunya disembunyikan Aji. 

Gaya bahasa novel ini mengalir banget. Porsi antara narasi dengan dialog sangat pas. Tidak ada bagian yang terkesan mubazir, juga tidak ada bagian yang membuat saya merasa haus penjelasan. Dari segi alur, semula saya kira alurnya memakai alur maju, namun ternyata ada flash back di beberapa bab menuju ending. Cerita flash back itulah yang menjawab pertanyaan-pertanyaan besar saya sejak membaca di hari pertama. Kenapa Aji dan Ara tidak bisa akur? Kenapa Ara dijodohkan dengan Bayu? Semua terjawab dengan gaya bahasa yang sangat rapi.

Beralih ke karakter. Penulis berhasil menghidupkan karakter anak-anak SMA di dalam novel ini. Detail karakternya sesuai. Misalnya ketika mereka berada di sekolah, rumah, mall, saya bisa merasakan mereka anak SMA banget. Apalagi kebiasaan Lulu—sahabat Ara—yang tidak pernah absen mengucapkan 'Lulu speaking' tiap kali Ara menelepon. Saya suka novel dengan karakter sehidup ini. Dan yang tidak kalah menarik, ternyata mamanya Aji gemar nonton drama Korea. Jujur, ini kali pertama saya baca novel dengan tokoh orangtua yang memiliki jiwa anak muda seperti ini. 

Sepanjang membaca First Fall, menurut saya diksinya keren. Serius, ini sama sekali tidak membosankan. Dan secara keseluruhan, novel ini mengajak pembaca untuk tidak  buru-buru ketika mengambil keputusan. Semua harus dipikir efek sampingnya, agar tidak menyesal di kemudian hari. Kalaupun sudah mengambil keputusan yang salah, ya harus terima konsekuensinya. 


Setiap hal yang terjadi di dalam hidup kita pasti ada alasannya, ada maknanya, yang pada akhirnya akan mengantarkan kita pada kebahagiaan. (hal 169)