25 February 2018

Book Review | Reply 1997

 

Judul: Reply 1997

Penulis : Lee Woo Jung (skenario), Park Yi Jung (novel)

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-3831-6

Tahun Terbit: 2017

Tebal: 360 halaman


Usia ketika kita semua bisa jatuh cinta.
Usia ketika kita meributkan hal-hal sepele.
Kata orang dewasa, pada usia itu kita bisa tertawa lepas tanpa beban.
Tapi sesungguhnya bagi kita, masa itu adalah masa-masa yang serius, penting, dan penuh gejolak.
Tahun 1997.
Tahun ketika usia kita delapan belas tahun.

Inilah kisah penuh nostalgia sekelompok sahabat menjelang akhir abad-20 di Busan… Kisah tentang persahabatan… Juga tentang cinta pertama.


“Kita seharusnya puas dengan impian yang sederhana. Impian yang muluk hanya akan mendatangkan penderitaan, dan semangat hampa hanya akan menimbulkan sakit hati.” (hal 129)



Sebetulnya Reply 1997 lebih menekankan pada persahabatan dan cinta pertama. Tapi ada satu hal yang tidak bisa lepas dari keduanya, yang membuat tokoh-tokoh dalam novel ini merasa dituntut untuk berpikir serius; impian.



Novel ini dibuka dengan acara reuni SMA Gwangan Busan pada Juni 2012 di Seoul. Shi Won menyapa dua sahabat perempuannya yaitu Dan Ji dan Yu Jeong. Tidak lama kemudian empat laki-laki yang kompak menggunakan dress code hitam berjalan mendekat. Setelah semua membaur dalam satu meja, mereka seperti kembali menjadi remaja 18 tahun, masa yang menurut orang-orang adalah masa menyenangkan.



Shi Won, Yu Jeong, dan empat laki-laki itu berfoto dengan bantuan Dan Ji sebagai fotografernya. Siapa sangka, persahabatan enam orang itu bertahan hingga lima belas tahun. Shi Won bahkan masih dijuluki Istri Tony (HOT) meskipun sekarang usianya sudah menginjak 32 tahun. Bagian berikutnya menceritakan kilas balik enam sahabat itu ketika masih menyandang status sebagai anak SMA.



Di tahun 1997, Shi Won punya semangat fangirl yang tinggi. Ayah dan teman-temannya sampai kesal melihat Shi Won menggilai Tony. Hingga suatu hari dia berontak akan aturan yang diterapkan ayahnya, tempat yang dia tuju untuk kabur dari rumah bukan rumah teman atau saudaranya, melainkan rumah Tony.



Di antara empat sahabat laki-lakinyaJun Hee,  Seong Jae, Hak Chan, dan Yoon Jae, Shi Won paling dekat dengan Yoon Jae. Yoon Jae sering ke rumah Shi Won untuk meminta makan karena dia yatim piatu. Bahkan orangtua Shi Won sudah menganggap Yoon Jae dan kakak laki-lakinya sebagai anak sendiri. Saat itulah romansa cinta pertama dimulai.



Usia remaja yang kata orang-orang sangat kental dengan perasaan merah jambu itu tidak sepenuhnya benar bagi karakter-karakter dalam novel ini. Bisakah Shi Won, Yoon Jae, dan teman-temannya menyelesaikan pertengkaran, pemberontakan, pergolakan impian, serta keributan yang mereka ciptakan di tahun 1997?



Ini kali kedua saya baca novelisasi  serial drama TV Korea. Kesulitan yang saya alami tentu saja menghafal nama-nama tokohnya. Untuk mengingat karakter di halaman tertentu, saya harus kembali membuka di halaman-halaman awal. Terlepas dari kesulitan itu, alur yang dikisahkan sangat menarik sehingga mudah untuk diikuti.



Pergolakan impian adalah salah satu bagian favorit saya. Bagaimana meyakinkan orangtua tentang rencana impian yang diambil, karakter Shi Won bisa membuktikannya meskipun masa remajanya dihabiskan dengan fangirling-an dan menulis fanfiction.



Pengambilan setting tahun 1997 ini sempurna sekali untuk mengajak pembaca mengenang masa lawas. Di samping itu, juga membuat pengetahuan pembaca bertambah. Tidak banyak yang tahu ada kejadian apa saja, ada benda menarik apa saja, ada penyanyi siapa saja yang sedang hits di tahun itu di Korea Selatan, khususnya di Busan dan Seoul.



Dari novel ini, kita belajar betapa berharganya kebersamaan dengan keluarga dan sahabat. Juga makna fangirl, bahwa sekuat apa pun semangat fangirl pada akhirnya harus kembali ke garis hidup sewajarnya (ini tajem banget, ciuss). Overall, novel ini recommended dan sangat cocok untuk pembaca yang suka kisah-kisah sederhana karena dekat sekali dengan keseharian pembaca.