25 February 2018

Book Review | Polaris Fukuoka by Sinta Yudisia

 
Judul: Polaris Fukuoka
Penulis: Sinta Yudisia
Penerbit: Pastel Books
ISBN: 978-602-6716-10-1
Terbit: Cetakan I, Oktober 2017
Tebal: 348 hlm

Tak mengenal sang ayah sudah menjadi beban berat bagi Sofia, terlebih harus kehilangan mamanya. Sepeninggal mama, Sofia melanjutkan kuliah di Jepang bersama paman yang sudah terlebih dahulu tinggal di sana. Dia harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan yang berbeda dari negara asalnya.

Selain kuliah, Sofia juga membantu paman mengurus toko bunga. Isao salah satu pemasok barang di toko paman yang dia sangka bisu dan tuli karena tak pernah mendengarnya berbicara, sampai suatu ketika Sofia mendapatinya menyanyikan lagu Fukai Mori.

Sofia merasa ganjil ketika Isao menghilang dan tiba-tiba undangan pemakamannya tiba. Muncul banyak pertanyaan dalam kepalanya saat tahu Isao bunuh diri. Mengapa Isao melakukannya? Apakah dia tak tahu ke mana harus kembali selain kepada kematian? Atau dia kehilangan poros kehidupan sehingga memutuskan mengakhiri semuanya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkeliaran dalam isi kepala Sofia, hingga gelang cemara, matsuri dan sebuah bintang polaris menjawab kebingungannya.

Sofia menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi rantauan kampus perempuan di Kitakyushu, agak jauh dari Fukuoka karena tidak tahan mendengar ceramah pamannya, Hanif. Dia tinggal bersama Hanif di Fukuoka atas permintaan nenek dan tantenya, tentu saja Sofia menurut karena sudah tidak ada sosok papa dan mama yang mengurus ataupun mengkhawatirkannya. Terlebih tinggal di negeri orang, banyak hal yang dia belum tahu, akan sangat sulit jika tinggal di apartemen sendirian.

Perkenalan Sofia dengan pemuda Jepang bernama Isao tidak menimbulkan keakraban di antara keduanya. Sofia bahkan tidak pernah menyebut nama Isao, dia punya panggilan sendiri khusus untuk pemuda itu: Fukai Mori. Isao adalah orang yang tenang, tidak banyak bicara. Hanya mengantar barang, menyerahkan faktur, menyelesaikan urusan keuangan di toko paman Sofia, lalu sudah. Tidak ada obrolan panjang dengan Sofia.

Undangan pemakaman Isao sontak membuat Sofia terkejut sekaligus terguncang, bukan karena dia merasa kehilangan, toh selama ini mereka memang tidak dekat. Melainkan karena dia teringat kematian mamanya. Mamanya yang menginginkan hidup lebih lama, Isao malah menginginkan mati dengan cara bunuh diri. Lewat tulisan-tulisan Isao, juga cerita-cerita dari Nozomi, adik Isao, Sofia mulai penasaran tentang sisi lain Isao yang selama ini tidak pernah dia lihat.

Entah sejak kapan jatuh cinta sama jejepangan, yang jelas begitu melihat penampakan sampul pink pastel  dengan background pohon sakura ini, saya nggak mau melewatkan untuk menikmat isinya. Dari judulnya sudah menarik dan berhasil membuat saya penasaran. Terlebih ilustrasi utama menampilkan perempuan berjilbab, saya mulai menerka bahwa ada unsur religi dan budaya di dalamnya. Sedikit curhat, setelah beberapa waktu lalu kesengsem sama Altair dan Aldebaran, sepertinya kini saya beralih ke bintang satu ini, Polaris.

Di chapter awal, dengan memakai sudut pandang orang ketiga, pembaca langsung diajak untuk mengenal chanoyu, budaya minum teh untuk merayakan pergantian musim dan memperingati kematian seseorang. Sofia merasa canggung karena baru kali itu ikut chanoyu dalam upacara kematian, terlebih dia tergolong bukan teman Isao. Dia sendiri tidak tahu kenapa Nozomi mengundangnya.

Chapter-chapter berikutnya mengisahkan segala hal tentang kehidupan Sofia sebagai perantau di negeri orang. Penulis banyak bercerita tentang kehidupan rantau itu, sehingga alur ceritanya terkesan lambat. Meski begitu perdebatan-perdebatan  kecil  di dalamnya sangat seru untuk diikuti.

Contohnya perdebatan Sofia dengan Nanda, adik mamanya. Diskusi tentang selera musik yang terkesan sepele itu ternyata cukup ada artinya jika dihubungkan dengan watak seseorang. Intinya, bahwa orang yang suka mendengar lagu sendu, dia lemah. Dan jika suka mendengar lagu cadas, dia akan kuat. Sofia kemudian menghubungkannya dengan Isao yang pernah datang ke konser Metallica. Jika Isao kuat, mengapa dia memilih untuk memangkas usianya?

Banyak hal yang tidak kita ketahui tentang orang sekitar kita.  Larut dengan kesibukan rupanya justru akan membuat kita jenuh. Sesekali bersikap peduli kepada orang terdekat itu akan menambah energi kita, dan tentu saja menambah semangat dan energi untuk orang lain. Itulah pelajaran yang bisa kita ambil ketika Sofia menemui Nozomi. Kehilangan keluarga dengan cara tragis, bukanlah hal yang mudah untuk dilalui gadis itu.
“Bagiku, kehadiranku di sini memberikan arti buat diriku. Menolong orang lain, memberikan energi kepada diri sendiri.” (hal 274).

Berbaur dengan orang-orang dari berbagai negara membuat Sofia belajar tentang banyak hal. Saat dia masih membawa-bawa kebiasaan buruk orang Indonesia inilah bagian yang paling seru. Suatu hari Sofia terlambat masuk kelas karena memang ada kendala, ketika dia memberi alasan keterlambatannya, sontak sang dosen menegasinya. Bahwa yang perlu dikatakan adalah permintaan maaf dan berjanji untuk tidak mengulangi (jleb banget nggak sih?). Menjadi perantau dengan penduduk mayoritas non-muslim, memang tidak seharusnya meninggalkan budaya ketimuran. Sofia tetap menutup aurat dan sering bertemu ustaz masjid terdekat di tengah bergaul dengan teman-teman non-muslim.

So, Polaris Fukuoka adalah novel yang layak dibaca karena deskripsi tentang kehidupan Jepangnya sangat kuat, meskipun saya sempat dibuat gemas juga dengan flashback kehidupan Sofia ketika masih tinggal di Indonesia. Konflik dan perdebatan dalam novel ini selalu ditutup dengan kalimat-kalimat bijak dan filosofi luar biasa. Hanya saja epilog yang menurut saya sedikit gantung ini mungkin tidak memberi kepuasan bagi pembaca. Kalau saya pribadi suka dengan ending yang gantung (novel saya yang sebentar lagi meluncur juga endingnya gantung lho, maaf OOT).