26 February 2018

Book Review | Please Be My Red by Christina Tirta


Judul: Please Be My Red

Penulis: Christina Tirta

Penerbit: Grasindo

Tebal: 241 halaman

Cetakan pertama, Juli 2017


“Kamu membuatku ingin hidup. Padahal sebelumnya aku begitu ingin mengakhiri hidupku.”
Kata-kata itu keluar dari mulut seorang pria dingin yang tidak pernah merasakan cinta. Pria misterius yang mempertanyakan tujuan keberadaannya di dunia ini. Pria yang terbuang dari keluarganya sendiri.
Namun, semua itu tidak membuat Sybil menjauh dari pria bernama Noah itu. Padahal, sejak pertama kali ia bertemu Noah, hatinya sudah memberi peringatan. Pria itu memiliki aroma gelap yang memabukkan, membuat Sybil setengah mati ingin mendekatinya, mencari tahu semua tentang dirinya.
Saat misteri yang membungkus Noah satu per satu mulai terungkap, sudah terlambat bagi Sybil untuk menjauh. Ia telah terpikat. Dirinya ibarat warna merah, ingin menghangatkan hitam yang mengitari Noah, dan memberinya cinta.


Mengenal  Noah, membuat Sybil seperti menonton film dalam dunia nyata. Selama ini hidupnya datar-datar saja, hampir tidak pernah ada drama. Sybil sendiri juga tidak tahu apa alasan dia begitu tertarik pada sosok Noah. Wajah Noah dingin ketika Sybil pertama kali menatapnya. Namun entah mengapa, Sybil justru tidak bisa melepas keterpukauannya.


Noah baru pulang dari Amerika, kemudian melanjutkan hidup di tanah air sebagai rekan kerja Sybil. Karena sama-sama masuk di divisi marketing , kedekatan Sybil dan Noah langsung terlihat. Menurut informasi dari Kiko—teman SMA Noah sekaligus sahabat Sybil di kantor, ada sesuatu yang terjadi pada Noah di masa lalu. Sybil tentu saja tidak percaya. Bagaimana mungkin laki-laki setampan Noah digosipkan pernah ingin bunuh diri? Terlebih Noah adalah anak dari big boss-nya, bukankah terlalu mustahil jika dia ingin mengakhiri hidup padahal memiliki keluarga yang sangat berkecukupan?


Drama yang ditonton Sybil semakin seru kala dia mendapat informasi dari rekan kerja yang sudah  bekerja lama di kantornya, bahwa big boss mereka hanya memiliki dua anak dan semuanya perempuan. Informasi itu Sybil kaitkan dengan permintaan Noah yang ingin dianggap sebagai karyawan biasa. Satu hal yang Sybil simpulkan, ada masalah dalam keluarga Noah.


Rasa penasaran Sybil soal hidup Noah makin menjadi-jadi setelah dia tahu fakta baru, salah satu kakak Noah meninggal dunia ketika berusia sepuluh tahun dan sebelum Noah lahir. Hubungan Noah dengan orangtuanya tidak begitu baik, itu sebabnya dia tidak tahu persis apa penyebab kematian kakaknya itu. Pun penyebab orangtuanya menutup rapat-rapat kabar kematian kakaknya, hingga informasi yang tersebar menjadi simpang siur.


Well, ini novel romance yang berbobot. Konfliknya tidak berfokus pada tokoh utama laki-laki dan perempuan. Saya baru baca novel tema cinta model seperti ini, tapi jatuhnya benar-benar luwes. Perbedaan kondisi keluarga dari masing-masing tokoh utama adalah situasi yang cukup dekat dengan pembaca dan sering tampak di kehidupan nyata. Christina Tirta seakan mengajak saya untuk mencandui wattpad fiction lainnya, karena sebelumnya saya tidak begitu tertarik dengan novel-novel wattpad.


Emosi pembaca akan terbawa tiap kali bertemu bagian kesuraman karakter Noah, seakan ikut merasakan betapa pedih jika berada di posisinya. Hadirnya sosok Sybil yang punya karakter ceria dan suka kepo menyeimbangkan emosi pembaca akibat masalah yang dialami Noah. Saya suka alur di semua bab karena ada kaitan dengan jalan cerita di bab-bab selanjutnya. Bagian yang membuat novel ini makin berbobot adalah diskusi-diskusi ringannya. Seperti dialog Sybil dengan Kiko yang memuat diskusi money can’t buy happiness VS money can buy happiness.


Tidak ada kekurangan yang menonjol dalam novel ini. Hanya sedikit kekeliruan yang saya temukan, yaitu ketika mama Sybil menyebut Sybil dengan panggilan ‘Na’ padahal itu panggilan adik Sybil, Kana. Kemudian tentang kemunculan tokoh Alya—teman Kana, saya agak bingung kenapa di bab awal Alya diceritakan menonjol sehingga membuat saya menebak kalau Alya—minimal—ada sangkut pautnya dengan konflik utama. Di bab-bab selanjutnya Alya tidak ditonjolkan lagi, jadi terkesan angin lalu.


Please Be My Red sangat cocok untuk pembaca yang menyukai tema family life. Untuk ukuran novel wattpad, novel ini sangat menarik dari segi tema dan pesan moral. Setelah menamatkan sampai bab akhir, pembaca langsung tahu apa yang ingin disampaikan penulis. So, kata siapa novel fiksi adalah imajinasi penulis semata sehingga tidak memuat pesan positif untuk pembacanya?