25 February 2018

Book Review | Love Catcher by Riawani Elyta

 
Judul: Love Catcher
Penulis: Riawani Elyta
Penerbit: Gagas Media
ISBN: 978-979-780-908-9
Tahun terbit: 2017
Tebal: 314 hlm; 13 x 19 cm

Tidak ada yang abadi di dunia ini. Tidak juga kesetiaan.
Benarkah?
***
Azizi dan Gaby sepenuhnya mengerti, mereka tak bisa saling melepaskan. Terlebih, setelah segala harap tumbuh di antara keduanya, mereka tak yakin bisa jauh terpisahkan. Namun, kini keinginan untuk terus bersama tak lagi sejalan dengan kenyataan. Mereka harus memilih.
Love Catcher mengisahkan sepasang kekasih yang telah memutuskan untuk hidup bersama selamanya. Namun, pilihan lain datang kepada mereka. Meski awalnya terlihat biasa, pilihan lain itu mengubah segalanya. Kisah mereka tak lagi sama. Mampukah janji menghapus segala ragu? Ataukah mereka harus menyerah pada rasa yang sudah telanjur berbeda?

Azizi dan Gaby belum lama saling kenal, namun sudah akan mempersiapkan pernikahan. Obrolan serius itu pertama kali terucap dari mulut Azizi, tentu saja dibalas dengan respon tidak percaya dari Gaby. Mereka bukannya terburu-buru, melainkan ada beberapa alasan yang membuat topik pernikahan sudah sewajarnya hadir di tengah obrolan. Pertama, usia yang sama-sama sudah menginjak kepala tiga. Kedua, kisah masa lalu yang sama-sama membuat mereka terluka.

Sebagai perempuan yang memiliki trauma hubungan jarak jauh—mama dan papanya bercerai karena LDM (long distance marriage), Gaby harus berpikir keras memikirkan kelanjutan rencana pernikahan. Pasalnya, Azizi baru saja mengabarkan bahwa dia akan dipindahtugaskan dalam urusan pekerjaan. 

Gaby tidak mau pindah mengikuti Azizi karena berat meninggalkan mamanya yang tinggal sendirian. Adiknya, Ghea, menghilang bersama lelaki seusia papanya, tentu saja tanpa restu dari mamanya. Sementara kakaknya, Gary lebih sering ngebolang ke berbagai penjuru dunia, dengan alasan untuk menemukan Ghea. Mau tidak mau Gaby harus menemani mamanya di rumah.

Di sisi lain, Gaby juga tidak mungkin meninggalkan Chocolieta, bisnis cokelat yang menjadi perantara perkenalannya dengan Azizi. Chocolieta juga yang membuat Gaby dekat dengan Mirza, yang semakin membuat hubungannya dengan Azizi menjadi maju-mundur. Apakah Azizi dan Gaby bisa menepati janji hidup-bersama-selamanya yang sudah mereka buat? Bagaimana cara Gaby menentukan pilihan sulit yang sedang dihadapinya itu?

Love Catcher mengambil tema kesetiaan, juga tentang pilihan dalam menjalani sebuah hubungan. Bagaimana menyikapi segala kerumitan kisah cinta di usia yang tidak lagi pantas untuk melakukan trial and error, penulis mengungkapkannya lewat karakter Gaby.

Dibuka dengan konflik antara Gaby dengan salah satu pelanggan kafenya, novel ini sudah memicu ketegangan pembaca di bab awal. Kehadiran tokoh Kania sebagai penengah menggiring perasaan pembaca, sehingga tidak terlalu gemas menyaksikan ‘perang dingin’ tersebut. Bisa disimpulkan, bab awal novel ini tidak membosankan. Terlebih konflik itu memiliki benang merah dengan bagian bab berikutnya. Rasa penasaran pembaca seperti ditarik kencang.

Dengan sudut pandang orang pertama dari sisi Gaby, pembaca diajak masuk dalam dilema perasaan Gaby. Gaby berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri akan pilihannya, antara mempertahankan hubungannya dengan Azizi, atau meneruskan kedekatan dengan Mirza.

“Kalau kamu sendiri masih ragu, bagaimana mungkin kamu bisa meyakinkan orang lain? Terutama mamamu, By.” (hal 226).

Setting tempat yang sebagian besar di dalam kafe cokelat membuat pembaca berimajinasi, saya bahkan sampai ngidam praline karena berkali-kali disebut dalam beberapa bab. Hanya Bandung, tidak ada setting tempat lain namun pendeskripsiannya pas, tidak melebar ke mana-mana. Sayangnya, tidak ada penjelasan arti bahasa Sunda di beberapa dialog, membuat pembaca yang bukan asli Sunda tidak terlalu paham makna dialognya—seperti saya.

Sisi menarik novel ini terletak pada bagian sudut pandang. Penulis memakai dua sudut pandang, yaitu sudut pandang orang ketiga di bagian prolog-epilog, dan sudut pandang orang pertama di bab-bab inti. Actually, saya suka pengambilan sudut pandang seperti ini karena terkesan lebih hidup, tidak memicu kebosanan di sepanjang proses membaca.

Secara keseluruhan, saya terhibur ketika membaca novel ini. Konflik ceritanya sederhana jadi otak bener-bener santai, tidak perlu mikir keras. Gaya bahasanya mengalir, sampai tidak terasa sudah menghabiskan banyak halaman. Dan yang paling keren, quotes-nya. Tidak tanggung-tanggung, saya menemukan quote kece di hampir tiap bab. Ini serius, KEREN!