25 February 2018

Book Review | Jodoh untuk Mira by Alnira

 
Judul: Jodoh untuk Mira

Penulis: Alnira

Penerbit: Penerbit Ikon

ISBN: 978-602-61440-3-4

Terbit: Cetakan I, September 2017

Tebal: 269 hlm

Almira–gadis yang bercita-cita menjadi dokter, lalu banting setir menjadi guru bimbingan konseling–pernah merasakan cinta monyet pada usia empat belas tahun. Namun kala itu, Mira harus patah hati karena pujaannya hanya menganggapnya adik. Kesedihan Mira bertambah saat Akradani Lawardi, cinta pertamanya, menghilang tanpa jejak sehari setelah ulang tahunnya yang ke tujuh belas.

Tujuh tahun sesudah itu, Mira berusaha untuk melupakan perasaannya pada Akradani. Namun, di saat tekadnya sudah bulat, Akradani kembali hadir. Dan, kali ini, pria itu tidak datang seorang diri, tetapi membawa anak kecil, yang memanggil Akradani dengan sapaan ‘Ayah’.


“Hidup tanpamu itu bagaikan burung yang kehilangan satu sayapnya, bisa hidup tapi tak bisa terbang.”



Mira—Almira Wiratama— terjebak dalam zona kakak-adekan sejak usianya 14 tahun. Bahkan saat  usianya menginjak 23 tahun, dia terpaksa berputar-putar dalam zona itu karena Akradani mematahkan hatinya. Dani memperlakukan Mira sebagaimana Andra memperlakukan gadis itu sebagai adik perempuan yang lincah nan ceria. Hati Mira tidak patah sampai di situ, dia juga harus menerima kenyataan pahit bahwa Dani menghilang tiba-tiba tujuh tahun lalu. Itulah situasi terburuk dalam tujuh belas tahun hidupnya.



Dani akhirnya menunjukkan diri di hadapan Mira dalam acara teman Andra yang juga teman Dani. Singkat kata, Dani dan Mira dekat karena Dani adalah teman Andra. Jangan ditanya bagaimana perasaan Mira saat bertemu Dani setelah tujuh tahun tidak bersua, sudah pasti hati dan jantungnya langsung tidak sehat. Terlebih setelah dia mendengar balita perempuan bernama Kania yang digandeng Dani itu memanggil pria favoritnya dengan sebutan ‘Ayah’. Dani sudah menikah? Itu artinya apakah benar selama ini Mira menaruh hati untuk orang yang salah?



Sejak pertemuan dengan Dani yang membuatnya harus merasakan electric shock, Mira perlahan membuka hati untuk teman kerjanya.

“Seseorang pernah berkata, lebih baik dicintai lebih dulu daripada mencintai. (hal 24).

Namun tetap saja cuma satu nama yang selalu terukir di hatinya, Akradani, dan hal itu membuat Mira tersiksa. Melupakan cinta pertama rupanya bukan perkara mudah. Kania yang sudah langsung dekat dengan Mira sejak pertemuan pertama membuat bebannya bertambah.



Ketika Mira berusaha keras melupakan perasaannya, dia justru dibuat penasaran akan kisah Dani tujuh tahun terakhir. Siapa wanita yang berhasil mencuri hati cinta pertamanya itu? Melihat paras Kania yang sangat cantik, Mira menebak itu warisan istri Dani. Tapi kenapa Dani hanya datang berdua dengan Kania saat pertemuan pertama mereka di acara teman Andra? Juga tentang alasan Dani tiba-tiba menghilang, kenapa pria itu memilih meninggalkannya tanpa memberi kabar sedikit pun?



Dua tokoh utama novel ini punya nilai tambah dalam menampilkan sosok jodoh yang baik. Namun terlepas dari itu tentu saja ada kekurangan keduanya yang menyeimbangkan keterkagumam pembaca. Karena kalau sempurna semua malah nggak asik dong ya.



Buat pembaca laki-laki, saya jamin dia akan terkagum-kagum sama tokoh Mira. Mira adalah tipe perempuan yang istriable. Dia meninggalkan rencananya menjadi dokter kemudian banting setir menjadi guru BK SMP. Dia hanya ingin ikut andil dalam mendidik anak-anak bangsa. Tidak hanya itu, Mira punya kebiasaan tidak menimbun pekerjaan rumah tangga sehingga hari Minggunya bisa digunakan untuk me time. Mira juga memilih hidup mandiri dengan tinggal di kontrakan, tentu saja setelah sekian lama membujuk abangnya, Andra. Kedua orangtua mereka sudah meninggal, wajar jika Andra over protectif terhadap adik semata wayangnya.



Buat pembaca perempuan, siap-siap jatuh cinta sama Akradani ya. Saya sampai berdesir-desir tiap kali Dani bertanya untuk melakukan sesuatu yang sepele. Dani lebih suka berkata “Mau makan siang bareng?” ketimbang “Makan siang bareng yuk!”. Artinya dia adalah tipe laki-laki yang sangat menghargai perempuan.



Novel ini mengambil ide cerita yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ringan untuk dibaca khususnya bagi orang-orangnya yang usianya sudah pantas untuk menikah. Premisnya memicu ketertarikan saya sejak membaca chapter-chapter awal. Dengan mengambil genre pure romance dan memasukkan konflik keluarga serta konflik umum sehari-hari, saya bisa langsung mengambil pesan moral dalam karya Alnira ini. Chemistry antar tokoh juga kuat. Mira dekat dengan banyak teman abangnya dan itu keren menurut saya.


Sebagai pecandu novel-novel romance, saya berharap konflik Mira-Dani ini menguat seiring jumlah halaman yang saya habiskan. Rupanya mereka adem ayem saja. Tapi secara keseluruhan, alur ceritanya asyik sekali untuk dinikmati. Beberapa kutipan di dalamnya akan membuat pembaca senyum-senyum nggak jelas. Kutipan ini salah satunya: “Pria tampan, keren, dan banyak uang memang jadi incaran semua wanita. Tapi pria yang rela membantu pekerjaan rumah tangga istri, lebih keren dari semuanya.”