16 November 2017

Book Review | Kutunggu Kau di 2017 by Septi Titanika


Yuhuu, akhirnya kesampaian juga pegang novelnya Mbak Septi Titanika. Sejak pertama dia ngetag tulisannya (judulnya lupa waktunya juga lupa) di akun facebook, saya langsung kepincut. Alasannya dua: easy reading dan suka sama idenya. Dan di tahun 2017 ini akhirnya lahirlah anak pertamanya. Nggak tanggung-tanggung, 400 halaman ciin. Hal pertama yang saya lakukan ketika nerima buku ini adalah bengong. Entah dia makannya apa ya sampai bisa bikin bantal setebel ini. Okay nggak usah kepanjangan basa-basinya, langsung saja meluncur ke review di bawah.




Judul: Kutunggu Kau di 2017
Penulis: Septi Titanika
Penerbit: Loka Media
Tahun terbit: Cetakan I, September 2017
ISBN: 978-602-50105-5-2
Tebal: 429 hlmn, ; 13 x 19 cm
Harga: Rp 79.000


Play video berikut untuk mengetahui blurb-nya!


“Selena bilang lo lebih beruntung karena masih hidup. Dan karena lo masih hidup lo nggak boleh menyerah apa pun yang terjadi. Lo hanya bisa menang jika menghadapi itu tanpa rasa takut.” (hal 250). 

Agus Supriyatno, laki-laki yang berencana menikahi Kinanti di tahun 1974setahun lagi, hari ini sedang meregang nyawa karena dihabisi warga kampungnya akibat dituduh melakukan perbuatan yang tidak dia lakukan. Dalam keadaan sekarat, sebelum hanya gelap yang dia lihat, Agus sempat meminta kepada Tuhan untuk mengirim dirinya ke suatu tempat. Tempat di mana dia dan Kinanti menikmati hidup bahagia, tanpa ada gangguan dari seorang pun, dari apa pun. Agus linglung begitu membuka mata. Ya, Agus membuka mata di waktu yang berbeda. Dia menembus waktu, melompat dari tahun 1973 ke tahun 2016. Tuhan mengabulkan permintaanya, dia masih hidup.  

Anugerah bagi Agus, namun musibah bagi Melody. Melody adalah perempuan 23 tahunyang memilih jomblo demi menunggu kedatangan seorang laki-laki di tempat mereka pertama kali bertemu 14 tahun lalu. Bekerja serabutan dan tinggal di rumah berdua bersama Selena, sahabat hantunya. 

Melody merasakan langitnya runtuh sejak menemukan tubuh Agus yang sekarat tergeletak di depan rumahnya. Bagaimana tidak? Agus bersikap seperti orang amnesia—sebagai akibat menembus waktu. Hanya gelengan yang Agus tunjukkan setiap kali polisi menanyakan identitasnya karena masih linglung. Mau tidak mau, Melody harus menampung Agus untuk tinggal bersamanya. Apalagi Agus baru saja dioperasi karena lukanya serius. Dia harus bekerja ekstra keras untuk menebus biaya operasi Agus di saat cicilan barang-barang di rumahnya belum lunas. 

Novel ini didominasi oleh karakter Agus dan Melody, eh Selena juga ding. Melody si pekerja serabutan, Agus si penjelajah waktu, dan Selena si hantu milenial, meskipun tampak aneh dan tidak wajar namun ketiganya menjalani hari-hari seperti orang pada umumnya. Tentu saja Agus tidak bisa melihat Selena. Melody diberkahi kekuatan bisa melihat sesuatu yang tidak kasat mata. Selena adalah hantu yang membersamai Melody bahkan sejak Melody masih bayi. Untuk bisa berkomunikasi dengan Agus, Selena menulis di kertas.  

Mereka mencoba bertahan hidup sewajarnya sampai tiba-tiba negara api menyerang, eh bukan ding, sampai tiba-tiba Melody dan Agus diculik. Bukan tebusan yang diinginkan penculik, melainkan disket yang disimpan Melody. Melody mengelak karena zaman sekarang sudah tidak orang pakai disket, termasuk dia. Namun penculik bersikeras. Dengan bantuan Selana, Agus dan Melody berhasil kabur dan pulang ke rumah membawa oleh-oleh berupa luka dan mungkin patah tulang. 

Dari mana para penculik itu tahu kalau Melody menyimpan disket padahal dia tidak merasa mempunyai barang jadul itu? Atau jangan-jangan ada benang merah antara isi disket itu dengan masa lalu Agus, Melody, dan juga Selena? Lalu apakah Agus bisa bertemu dan hidup bahagia dengan Kinantinya? Dan berhasilkah Melody bertemu laki-laki yang sudah ditunggunya selama 14 tahun? Aih pertanyaan-pertanyaan itu nggak berhentinya memenuhi kepala saya saat membaca di bab-bab awal. 

Begitu membaca blurb, saya langsung kepincut karena saya memang suka bacaan bertema time travel. Terakhir baca novel Indonesia bertema time travel itu waktu SMA. Waktu itu saya susah move on banget tuh sama Incognito-nya Kak Windhy Puspitadewi. Nggak nyangka tahun ini bisa nemu novel time travel dengan cerita yang lebih fresh. Uwooo so happy very very happy. Apalagi settingnya mengambil Jogja tahun lawas yaitu 1973. Serius, sejak dulu saya suka banget novel berlatar Jogja. Nggak tahu juga kenapa.  

Nah begitu nemu istilah ‘pit unto’ (sepeda zaman dulu yang tinggi lalu bagian penghubung antara sadel dan stangnya melengkung) dan ‘senthir’ (lampu minyak), perasaan saya mulai diaduk-aduk. Pit unto dan senthir yang lagi hits-hitsnya di tahun 1973 kemudian istilahnya mulai jarang dipakai di era milenial ini seakan membuat saya kembali mengenang masa kecil. Sedikit curhat, setelah menamatkan nonton drama Korea seri Reply (Reply 1997, Reply 1994, Reply 1988) saya berandai-andai, keren kali ya kalau ada Reply versi Indonesia karena bisa mengenang era-era zaman lawas. Dan Kutunggu Kau di 2017 sedikit mengobati penyakit mengandai-andai saya. 

Oh iya, jangan membayangkan atau memikirkan betapa membosankannya membaca novel setebal 429 halaman ini, sebaliknya, kita akan dibuat betah dengan gaya bahasa penulis yang santai bahkan banyak dialog dan narasi yang akan membuat kita ketawa-ketawa. Mungkin ini cara penulis mengemas novel romance-fantasy tebal, membuat dada pembaca serasa diaduk-aduk sampai harus maraton membaca. 

Logat kental Jawa dari mulut Agus versus logat anak gaul Jakarta dari mulut Melody ini dijamin bikin pembaca terhibur. Celetukan Agus yang ditirukan Melody di halaman 294ini bikin saya ngakak, “Mbak Mel ampun polah nggih. Lungguh sing anteng, mengko mundak ilang ayune.” yang artinya Mbak Mel jangan pecicilan, duduk yang baik, nanti hilang cantiknya.

Meskipun memasukkan unsur romance, namun Kutunggu Kau di 2017 ini tidak menampilkan adegan menye-menye apalagi galau-galauan nunggu kapan si doi dateng. Justru banyak bagian yang akan membuat kita bangkit dan semangat menjalani hari-hari di sepanjang penantian. Seperti yang dilakukan Melody. Meskipun dia galau juga karena nggak ada tanda-tanda dia akan bertemu laki-laki itu, namun dia sibuk bekerja serabutan sehingga tampak biasa-biasa saja. 

Pun dengan Agus, dia tetap semangat menjalani hidupnya di tahun 2016 meskipun merasa sedih dan sangat rindu ingin bertemu Kinanti. Saat hidup di tahun 1973, Agus juga pantang menyerah menghadapi kegalakan ibunya Kinanti. 

“Lo lahir di dunia ini juga butuh perjuangan, lo lahir di dunia ini karena terpilih. Jadi yang perlu lo lakuin hanyalah menjalaninya dengan syukur, penuh semangat dan selalu mengusahakan yang terbaik.” (hal 416-417). 

Secara keseluruhan, novel ini easy reading. Saking easy readingnya, saya sampai nggak bingung mengikuti penjelajahan waktu si Agus dari tahun 1973 melompat ke tahun 2016, dari tahun 2016 melompat ke tahun 2003, dari tahun 2003 melompat lagi ke tahun sekarang. Justru di situ letak keasyikannya. Hanya saja beberapa kebiasaan yang ditunjukkan karakter Melody sebagai seorang fangirl dan Korean addict ini cuma bisa dimengerti oleh pembaca yang punya jiwa fangirl juga, seperti saya, heuheu.   

Terlepas dari hal itu, lain-lainnya oke banget. Saat masuk ke halaman 100, nggak bisa dipungkiri, ini bener-bener bacaan yang saya cari selama ini. Apalagi di balik Melody yang pecicilan, dia punya pemikiran bijak di mana bisa dijadikan renungan yang memang sesuai dengan kategori pembaca novel ini, young adult. 

“Lo itu udah dewasa. Apa-apanya harus dipikir jernih, jangan ngambekan kayak remaja labil.” (hal 238). 

Semua pertanyaan yang tertahan saat membaca di bab-bab awal mulai terjawab seiring jumlah halaman yang saya habiskan. Bener-bener nggak ketebak. Benang merahnya ke mana-mana tapi menyatu sempurna di bagian ending. Itulah yang membedakan Kutunggu Kau di 2017 dengan novel young adult lainnya. 

Dari novel ini, kita belajar bahwa menunggu si doi sambil bergalau-galau itu akan sia-sia. Lebih baik dijalani dengan hal-hal positif, kegiatan-kegiatan produktif. Juga perihal keterpurukan ketika tertimpa musibah, karakter Agus mengajarkan kita untuk tidak menyerah pada keadaan. Yang harus dilakukan hanya bersyukur dan menjalaninya tanpa beban. Lebih bagus lagi kalau kita membantu meringankan beban orang lain, saling menolong saat tertimpa musibah. 

“Mama bener, efek membantu orang lain itu luar biasa. Satu kepakan sayap kupu-kupu kecil di sini dapat menyebabkan badai di tempat lain. Butterfly effect.” (Hal 415) .

Eh reviewnya kepanjangan ya? Habisnya novelnya juga panjang, hihi. Okay, sebagai penutup, buat yang lagi butuh hiburan, yang lagi butuh bacaan bagus, silakan baca Kutunggu Kau di 2017. Recommended bageeets.